Hukum Pidana: Pasal Apa untuk Menjerat Paranormal yang Berbuat Tidak Senonoh?

Posted: September 1, 2011 in Hukum Pidana and Others

Pertanyaan :

Saya dan teman saya sudah tertipu oleh seorang yang mengaku paranormal. Sebenarnya nilainya tidak begitu besar, tapi sikapnya yang ingkar itu yang bikin jengkel. Dia bilang akan mengembalikan barang-barang yang dipinjam dari saya dan teman saya itu. Tapi, sampai sekarang tidak ada iktikad untuk mengembalikannya. Selain itu, dia juga menceritakan hal-hal buruk tentang kami kepada orang lain (pasien-pasien lainnya). Padahal, dia pernah berkata pada kami bahwa seperti layaknya dokter, rahasia pasien aman di tangannya. Barang tersebut berupa 2 buah cincin emas, yang bernilai kira-kira 1,7 juta. Selain itu, dalam melakukan pengobatan, dia sering berbuat tidak senonoh ketika pasien dalam keadaan tidak sadar. Kami ingin memperkarakan kasus tersebut ke pengadilan. Karena salah satu korban perbuatan tidak senonohnya adalah keponakan perempuan dari teman saya tersebut. Pasal-pasal apa yang bisa digunakan untuk menjeratnya. Bisakah dia dijerat dalam perbuatan penipuan, perbuatan tidak senonoh, dan mencemarkan nama baik (karena saya dan teman saya dijelek-jelekkan sama dia). Terima kasih. Lala.

Jawaban :

Kami turut prihatin atas apa yang dialami Anda dan teman Anda serta kerabatnya.

Menurut hemat kami, berikut ini beberapa hal yang dapat Anda pertimbangkan:

1.      Terkait cincin yang tidak dikembalikan.

Apabila cincin yang dipinjam oleh paranormal tersebut tidak kunjung dikembalikan, paranormal tersebut dapat dilaporkan ke pihak kepolisian atas dasar penggelapan dan penipuan (lihat Pasal 372 dan Pasal 378 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana“KUHP”).

Yang termasuk penggelapan adalah perbuatan mengambil barang milik orang lain sebagian atau seluruhnya) di mana penguasaan atas barang itu sudah ada pada pelaku, tapi penguasaan itu terjadi secara sah. Misalnya, penguasaan suatu barang oleh pelaku terjadi karena pemiliknya menitipkan barang tersebut. Atau penguasaan barang oleh pelaku terjadi karena tugas atau jabatannya, misalnya petugas penitipan barang. Tujuan dari penggelapan adalah memiliki barang atau uang yang ada dalam penguasannya yang mana barang/ uang tersebut pada dasarnya adalah milik orang lain.

Sedangkan, yang dimaksud dengan penipuan yaitu dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, dengan memakai nama palsu atau martabat palsu, dengan tipu muslihat, ataupun rangkaian kebohongan, menggerakkan orang lain untuk menyerahkan barang sesuatu kepadanya, atau supaya memberi hutang maupun menghapuskan piutang. Lebih jauh, simak artikel jawaban Penggelapan dan Penipuan.

2.      Terkait kerahasiaan ‘pasien’.

Apabila paranormal tersebut memang menceritakan hal-hal buruk tentang Anda dan teman Anda kepada pasien-pasien lain, paranormal tersebut dapat dilaporkan atas dasar pencemaran nama baik yang diatur dalam Pasal 310 KUHP. Lebih jauh, simak artikel jawaban Penghinaan.

3.      Terkait perbuatan tidak senonoh.

Anda tidak menjelaskan seperti apa perbuatan tidak senonoh yang dilakukan oleh paranormal tersebut. Namun, jika yang Anda sebut perbuatan tidak senonoh itu termasuk dalam perbuatan cabul, maka paranormal tersebut dapat dijerat dengan pasal-pasal pencabulan (Pasal 289 s.d. Pasal 296 KUHP). Perbuatan cabul ialah perbuatan yang melanggar rasa kesusilaan, atau perbuatan lain yang keji, dan semuanya dalam lingkungan nafsu berahi kelamin. Misalnya cium-ciuman, meraba-raba anggota kemaluan, meraba-raba buah dada dan sebagainya (lihat komentar R. Soesilo atas Pasal 289 KUHP dalam buku “KUHP Serta Komentar-komentarnya” hal. 212).

Anda tidak menyebutkan usia keponakan teman Anda. Namun, apabila keponakan teman Anda belum mencapai usia 18 tahun, maka yang bersangkutan secara hukum dikategorikan sebagai anak. Perbuatan cabul terhadap anak dijerat dengan Pasal 82 UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang diancam dengan pidana penjara paling lama 15 tahun dan paling singkat 3 tahun dan denda paling banyak Rp300 juta dan paling sedikit Rp60 juta. Lebih jauh, simak artikel jawaban Bisakah Ditangkap Polisi Karena Berduaan Dengan Pacar?

Demikian jawaban dari kami, semoga dapat membantu.

Dasar hukum:

1.      Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (Wetboek van Strafrecht, Staatsblad 1915 No 73)

2.      Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s