Hukum Pidana: Bagaimana Pidana Bagi Anak yang Terlibat Terorisme?

Posted: September 1, 2011 in Hukum Pidana and Others

Pertanyaan :

Selamat pagi, Saya Resta Mahasiswa magister jurusan kajian terorisme di UI. Saya punya pertanyaan; akibat hukum apakah yang dapat dijatuhkan kepada anak di bawah usia 18 tahun jika terkait kasus terorisme di Indonesia? Terima kasih.

Jawaban :

Sesuai dengan definisi anak dalam Pasal 1 ayat (1) UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (“UU 23/2002”), anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Hal ini senada dengan ketentuan dalam Pasal 1 ayat (1) UU No. 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak (“UU 3/1997”) bahwa anak adalah orang yang dalam perkara Anak Nakal telah mencapai umur 8 (delapan) tahun, tetapi belum mencapai umur 18 (delapan belas) tahun dan belum pernah kawin. Yang dimaksud anak nakal adalah termasuk anak yang melakukan tindak pidana (lihat Pasal 1 agka 2 UU 3/1997) dan untuk seorang anak dapat diajukan ke Sidang Anak haruslah berumur sekurang-kurangnya 8 (delapan) tahun tetapi belum mencapai umur 18  tahun dan belum pernah kawin (lihat Pasal 4 ayat (1) UU 3/1997).

Selanjutnya, dalam Pasal 16 ayat (3) UU 23/2002 ditentukan bahwa penangkapan, penahanan, atau tindak pidana penjara anak hanya dilakukan apabila sesuai dengan hukum yang berlaku dan hanya dapat dilakukan sebagai upaya terakhir.

Dalam hal anak melakukan tindak pidana terorisme, maka pemidanaan yang dapat dikenakan terhadap anak adalah pidana sebagaimana diatur dalam UU No. 15 Tahun 2003 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, Menjadi Undang-Undang (“UU 15/2003”).

Contoh kasus terkait adalah kasus terorisme yang diputuskan pada 7 April 2011 oleh Pengadilan Negeri Klaten atas terdakwa AW yang berusia 17 tahun. Pengadilan menyatakan AW terbukti bersalah melakukan tindak pidana terorisme. Dalam persidangan, AW diganjar hukuman penjara 2 tahun. Majelis hakim saat membacakan pertimbangan putusan antara lain menyatakan bahwa terdakwa telah terbukti melanggar Pasal 15 junto pasal 9 UU 15/2003. Berita selengkapnya bisa disimak di tempointeraktif.com.

Jadi, akibat hukum yang dapat diterima oleh anak yang melakukan tindak pidana terorisme adalah pidana penjara (lihat Pasal 6 s.d. 19 UU 15/2003) dan terhadap anak yang bersangkutan tidak akan dikenai pidana penjara seumur hidup atau pidana mati (lihat Pasal 19 UU 15/2003).

Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.

Dasar hukum:

1.      Undang-Undang No. 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak

3.      Undang-Undang No. 15 Tahun 2003 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, Menjadi Undang-Undang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s